Cari Blog Ini

Memuat...

Sabtu, 17 Desember 2011

PURING (Codiaeum variegatum)

SEJUTA WARNA SEJUTA MANFAAT

Kerajaan:Plantae
Divisi:
Magnoliophyta  
Kelas:
Magnoliopsida
Ordo:
Malpighiales
Famili:
Euphorbiaceae
Genus:
Codiaeum
Spesies:C. variegatum


A.    PENDAHULUAN

Puring  (Codiaeum variegatum) , puding,atau kroton adalah tanaman hias pekarangan populer berbentuk perdu dengan bentuk dan warna daun yang sangat bervariasi. eragam kultivar telah dikembangkan dengan variasi warna dari hijau, kuning, jingga, merah, ungu, erta campurannya. Bentuk daun pun bermacam-macam: memanjang, oval, tepi bergelombang, elainya "terputus-putus", dan sebagainya.Secara botani, puring adalah kerabat auh singkong serta kastuba. Ciri yang sama adalah batangnya menghasilkan lateks berwarna putih ekat dan lengket, yang merupakan ciri khas suku Euphorbiaceae.Puring berasal dari epulauan Nusantara namun kini telah tersebar di seluruh daerah tropika dan subtropika, sertamenjadi salah satu simbol turisme. (id.wikipedia.org/wiki/Puring).
Tanaman ini tumbuh dan tersebar dari daerah beriklim panas hingga daerah subtropika. Hingga saat ini belum ada data pasti yang menunjukkan asal tanaman ini. Menurut beberapa sumber pustaka, puring sudah lama ada di Indonesia dan pertama kali ditemukan di kepulauan Maluku yang dimanfaatkan sebagai tanaman pagar atau pekuburan. Di setiap daerah puring memiliki nama berbeda-beda. Di Sumatra dikenal dengan nama tarimas, siloastam (Batak), nasalan (Nias), Pudieng (Minangkabau, Lampung). Di jawa dikenal dengan nama puring (Sunda, Jawa), Karoton (Madura). Di Nusa Tenggara dikenal dengan nama demung, puring (Bali), daun garida (Timor). Di kalimantan di kenal dengan nama uhung dan dolok. Di Sulawesi : dendiki (Sangir), Kejondon, Kalabambang, dudi, leleme, kelet, kedongdong disik (Minahasa), nuniki balano (Buol), balenga semangga (Makassar), dahengora, mendem (Manado). Di Maluku dikenal dengan nama susurite, salu-salu, fute, ai haru,sinsite, siri-siri (Seram), galiho, dahengaro, salubuto (Halmahera), dahengora, daliho (Ternate, Tidore). (http://www.kaskus.us)

B.    JENIS PURING

              Secara garis besar ada empat jenis puring, yaitu Meidum baill, Pictum hook, Croton pictus lood, dan phylovren lour. Jenis yang paling umum diperdagangkan adalah Croton. Varietas puring yang terkenal adalah puring nuri (C. variegatum ’Miami’), puring gelatik (C. variegatum ‘Belvalen’), puring ketapang (C. variegatum ‘Miami’), puring banci (C. variegatum ‘Imperialis), Poring bor (C. variegatum ‘Jan Bier), puring buntut ayam (C. variegatum ‘Majestic’), Puring jet (C. variegatum ‘exotica’), cactus tiang/petung (C. variegatum ‘Majestic’), dan cactus gendong (C. variegatum ‘Mac Art’) dan lain-lain (http://www.kaskus.us)

C.    BENTUK FISIK

Bentuk daun tanaman puring bervariasi, ada yang berbentuk pita yang panjangnya 5 cm – 30 cm, elips, oblong, bulat, hingga seperti ujung tombak. Permukaan daun ada yang rata, bergelombang, dan berpilin. Warna daun juga bervariasi, ada yang berwarna hijau tua polos dan ada pula yang memiliki lebih dari tiga macam warna dengan variasi hijau, coklat, merah, biru dan kuning. Coraknya ada yang berbintik-bintik, bergaris-garis, dan belang-belang. Daun dan tangkainya memiliki getah berwarna bening hingga putih. Bunga telanjang dengan benang sari yang banyak dan tersusun berangkai dalam satu tangkai bunga. Batang berkayu dan bergetah, tinggi mencapai 3 meter dan memiliki percabangan yang banyak. (http://www.kaskus.us)

D.    HAMA DAN PENYAKIT

             a. Hama (http://www.kaskus.us)
1.     Tungau (Tetranychus sp.)
 Hama ini bersifat poliphag dan menyerang lebih dari 100 jenis tanaman. Tungau betina sekali bertelur kurang lebih 100 butir. Umur satu generasi mencapai 10 hari pada temperatur 300 C atau 22 hari pada temperatur 180 C. tungau aktif pada siang hari dan membuat benang-benang halus. Tungau dewasa berukuran 0,5 mm warnanya kuning pucat hingga kemerahan. Penyebaran tungau dapat terjadi karena angin yang menghembuskan hingga berhamburan, ikut bersama daun yang jatuh, melalui pakaian orang yang lewat didekatnya, alat pertanian, serangga. Hama ini menyerang tanaman pada musim kemarau yang ditandai dengan adanya bintik-bintik pucat dan banyak sarang pada daun. Serangan yang berat menyebabkan daun menggulung berwarna coklat, kemudian berguguran.
2.     Wereng putih (Empoasca sp.)
Serangga ini berwarna putih, bentuknya kecil, memiliki sepasang sayap berukuran 0,5 mm. hama ini terdapat di permukaan bawah daun menyerang tanaman hingga menimbulkan  noda pada daun. Daun yang terserang berwarna coklat kemerahan seperti terbakar, tepi daun menggulung ke bawah kemudian mongering. Hama meletakkan telurnya di bagian bawah daun. Pengendalian hama ini dengan membakar daun-daun yang terserang hama atau tanaman yang diserang disemprot insektisida Tamaron, Decis, atau Matados dengan konsentrasi 0,2%.
3.     Thrips sp.
Hama ini berkembang pesat jika udara kering dan temperatursekitar 260 C – 280 C. panjangnya 1 mm – 2 mm, berwarna hitam, bertelur hingga 50 butir. Lama perkembangan  mulai telur sampai dewasa sekitar 33 hari. Kebanyakan thrips bersifat parthenogenesis. Thrips menyerang dengan cara menghisap cairan dari permukaan hingga terjadi bercak berwarna putih seperti perak. Bercak tersebut akan berubah menjadi warna coklat, kemudian daun mati dan gugur. Serangan yang berat menyebabkan daun menjadi keriput seperti terserang virus. Pengendaliannya dengan cara menyemprot insektisida Decis 0,5 cc – 1 cc/liter ait atau Thiodan 2 cc/liter air.
                    b.    Penyakit  (http://www.kaskus.us)
1.     Penyakit Karat
Penyakit ini menyerang tanaman pada malam hari yang udaranya lembap, banyak hujan, dan berkabut. Serangan berat dapat menimbulkan bercak-bercak berwarna kecoklatan, kemudian daun mongering. Pengendaliannya dengan membuat Drainase media tanam agar air tidak menggenang, daun-daun yang terserang dipotong dan dibakar dan tanaman disemprot dengan fungisida Zineb 2%, atau Dithane M-45 sebanyak 2 – 3 gram/liter air.
2.      Lumut Kerak
Lumut ini menempel pada batang dan percabangan tanaman yang tidak terkena cahaya matahari. Serangannya tidak membahayakan, tetapi ganggu kebersihan dan penampilan tanaman ka  rena batang dan percabangan tampak kotor. Pengendaliannya yaitu : (1) Bagian batang yang diserang dipangkas dan dibakar. Cahaya matahari diusahakan dapat menembus seluruh bagian tanaman. (2) Lumut pada batang dibersihkan dengan cara dikerok menggunakan pisau secara hati-hati, jangan sampai kulit batang terluka atau tergores. (3) Batang tanaman yang diserang diolesi dengan fungisida dengan menggunakan kuas, misalnya, Cobox, Zineb, Benlate dan Ridomil dengan konsentrasi 2%.

E. MANFAAT PURING (http://www.kaskus.us)

Tanaman puring selain sebagai penghias pagar dan pekarangan rumah pucuk daun mudanya juga dapat dimanfaatkan sebagai lalapan (sayuran), tanaman hias, dan obat-obatan tradisional. Kegunaan penting, antara lain adalah sebagai berikut :
1.     Akar dan kulit tanaman puring digunakan untuk menyamak kulit karena tanaman puring mengandung zat penyamak.
2.     Air rebusan daun puring bias digunakan untuk memperlancar keluarnya keringat. Caranya, air rebusan tersebut digunakan untuk mandi. Jika diminum, air rebusan daun puring juga dapat membantu menurunkan panas badan karena demam.
3.     Air rebusan daun puring jenis air mancur dapat digunakan untuk mencegah penyakit rajasinga.
4.     Papagan kulit batang yang diseduh dengan air panas lalu diminum dapat mengurangi rasa sakit perut akibat diare
5.     Dalam farmakologi Cina disebutkan tanaman ini memiliki rasa pahit, dingin, beracun. Melancarkan peredaran darah, peluruh keringat dan pencahar ringan. Akar dan kulit batang mempunyai rasa pedas, yang berkurang bila digodok bersama dengan scutellaria. Efek farmakologi ini diperoleh dari penggunaan daun, ranting muda, akar dan kulit batang. 
6.     Sebagian dari ibu - ibu mungkin kebingungan ketika buah hatinya sakit, sakit perut misalnya. jika ibu mempunyai tanaman puring bisa memanfaatkannya sebagai obatnya. berikut ini caranya;
-       ambil secukupnya daun puring muda, yang beerwarna kuning dan masih segar
-       lumatkan sampai halus
-       tambahkan sedikit air bersih, aduk sampai menjadi bahan seprti bubuk
-       oleskan pada perut anak

F. PENYAKIT LAIN YANG DAPAT DISEMBUHKAN DAN CARA PENGGUNAANYA (http://id.answers.yahoo.com)

Berdasarkan berbagai literatur yang mencatat pengalaman
secara turun-temurun dari berbagai negara dan daerah,tanaman ini dapat menyembuhkan penyakit-penyakit sebagai berikut :
1. Perut mulas. Akar puring sepanjang satu jari ditambah 3 lembar daun sesuru
(Euphorbia nerifolia L.) ditumbuk sampai halus,tambahkan air secukupnya lalu disaring dan diminum. Setelah minum ramuan ini akan sedikit diare karena berkhasiat pencahar, tapi sakit perutnya menghilang.
2.  Sakit perut pada anak-anak. Daun puring berwarna kuning yang masih muda dan segar,secukupnya dilumatkan sampai halus, tambahkan sedikit air bersih sampai menjadi bahan seperti bubur. Balurkan pada perut anak.
3.  Sifilis. Satu batang puring seutuhnya dicuci bersih lalu digodok dengan 5 gelas airsampai tersisa setengahnya. Setelah dingin disaring lalu dibagi untuk 3 kali minum. Diminum dengan air gula seperlunya.
4.  Sukar berkeringat, eksema. Rebus daun secukupnya, minum.
5.  Cacingan, nafsu makan berkurang. Rebus ranting muda secukupnya, minum.
6.  Sembelit, kejang lambung, kehilangan selera, penyakit saluran kencing pada anak- anak. Rebus akar dan kulit batang secukupnya, minum.

G. MANFAAT BAGI LINGKUNGAN

Udara di dalam rumah bisa saja tercemar zat-zat berbahaya.  Untuk mengurangi risiko terkena paparan polusinya, bisa dilakukan dengan cara menghadirkan tanaman hijau di dalam ruangan. Berada di dalam rumah bukan berarti terbebas dari polusi. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh United State Environmental Protection Agency (USEPA) mengindikasikan bahwa derajat polusi dalam ruang bisa 2 sampai 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan polusi luar ruangan. (http://www.tabloidrumah.com)
Parahnya, gas CO yang dihasilkan rokok maupun sumber lain (asap kendaraan, asap kompor), jika terhirup oleh hidung akan masuk ke dalam aliran darah, termasuk aliran darah jantung. Bila ini terjadi, maka hemoglobin akan lebih banyak terikat dengan CO dan ini bisa menyebabkan kadar CO berlebihan dalam darah. Pada tubuh yang kekurangan oksigen dapat menimbulkan terjadinya hipoksia. Bila hipoksia menyerang otak, maka akan menimbulkan gangguan susunan syaraf pusat yang disebut ensefalopati. Apabila mengenai jantung dan darah disebut gangguan kardiovaskuler. (http://www.tabloidrumah.com)
Untuk mengatasi masalah polusi dalam ruangan, selain memperbaiki sirkulasi udara, juga juga dapat diminimalisir dengan meletakkan tanaman di dalam ruangan. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) awal 1970-an menemukan 50 jenis tanaman yang mampu mengurangi konsentrasi polutan di dalam ruangan, terutama tiga polutan utama, yaitu benzena, trikhloroetilen (TCE), dan formaldehid. Bintang Nugroho dari Green Building Council Indonesia (GBCI) mengatakan, sejumlah tanaman yang dimaksud NASA ada di Indonesia, misalnya lidah mertua (Sanseviera), palem bambu, sri rejeki (Aglaonema), beringin, garbera yang biasa kita jadikan bunga potong, puring (Janet crane), dan hanjuang (Marginata). (http://www.tabloidrumah.com)
Menurut penelitian di laboratorium, kelima jenis pohon itu bisa mengurangi polusi udara sekira 47 – 69 persen. Mereka adalah pohon felicium (Filicium decipiens), mahoni (Swietenia mahagoni), kenari (Canarium commune), salam (Syzygium polyanthum), dan anting-anting (Elaeocarpus grandiforus). Sementara itu, jenis tanaman perdu yang baik untuk mengurangi polusi udara adalah puring (Codiaeum variegiatum), werkisiana, nusa indah (Mussaenda sp), soka (Ixora javanica), dan kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis). (http://anekaplanta.wordpress.com)

H. BUDIDAYA PERBANYAKAN PURING (http://tabloidgallery.wordpress.com)

Agus Choliq Pemilik Krokot Nursery yang mengkoleksi puring mengakui menggunakan metode stek dan cangkok dalam melakukan perbanyakan tanamannya. Sedangkan untuk penyerbukan alami dirinya melakukan hanya untuk proses penyilangan. Harapannya bisa menghasilkan satu jenis baru yang baik. Dengan naiknya pamor puring saat ini otomatis proses perbanyakan harus lebih cepat dan evisien sebagai konsekuensi permintaan pasar yang meningkat. Puring yang mempunyai batang keras mempunyai karakter yang berbeda dengan tanaman lainnya dengan karakter batang lunak. Bila di sejajarkan maka perbanyakan puring sama dengan tanaman yang sering kita lihat di sekitar kita dan yang paling mudah di dapatkan adalah tanaman buah. Berikut kami berikan dua alternatif tips dan trik perbanyakan puring.

Metode Stek Lebih Cepat
Metode stek merupakan cara yang paling mudah untuk dilakukan sebab tidak perlu persiapan yang panjang selain itu alat yang digunakan juga tidak terlalu rumit.
1.    Siapkan peralatan yang terdiri dari gunting tanaman, pisau, plastik penutup, tali plastik, pot dan media tanam.
2.    Siapkan media tanam dengan campuran pasir, dengan humus bambu.
3.    Pilih batang puring yang sudah terlihat tua untuk dipotong. Cirinya cukup mudah perhatikan kulit bila sudah berwarna cokelat seperti kulit kayu berarti batang sudah siap di stek.
4.    Potong dengan menggunakan gunting tanaman yang sudah dibersihkan. Hindari pengunaan pisau sebab batang punya struktur yang keras dan mengandung kayu.
5.    Setelah terpisah jangan lupa untuk untuk menutup luka di pohon indukan dengan fungisida.
6.    Bila daun terlihat rimbun potong di bagian bawah dengan menyisakan sekitar 5-7 daun. Tujuannya untuk mengurangi penguapan yang harus di jaga selama proses stek.
7.    Ikat sisa daun mengarah keatas dan tutup dengan plastik untuk mengurangi penguapan.
8.    Rendam potongan bawah dalam larutan perangsang akar sekitar 15-20 menit.
9.    Masukkan dalam media tanam dengan urutan stylofoam/gabus bisa juga dengan menggunakan pecahan genting, selanjutnya masukkan pasir hingga setengah pot. Setelah itu masukkan potongan stek.
10.   Lapisan atas gunakan campuran pasir dengan humus bambu hingga penuh.
11.   Tekan media tanam hingga batang bisa berdiri tegak.
12.   Siram media tanam dengan menggunakan sisa air perangsang akar
13.   Tempatkan ditempat teduh.
Tanda berhasilnya proses stek bisa dilihat dari kondisi daun selama satu hingga dua minggu. Bila terlihat tetap segar bahkan tumbuh tunas baru berarti stek berhasil dan tutup plastik bisa dilepas. Cara stek ini mempunyai kelebihan cepat dan mudah namun keberhasilan  proses ini masih mempunyai keberhasilan hingga 90%. Jadi masih ada kemungkinan 10 persen tidak berhasil. Untuk meminimalkan kegagalan usahakan saat melakukan pemotongan stek dipastikan pohon dalam keadaan sehat. Selain itu batang juga harus sudah tua supaya pertumbuhan akar bisa maksimal. Yang tak kalah penting adalah untuk menjaga kelembaban dengan menempatkan di tempat yang tidak terkena sinar matahari.  

Metode Cangkok Lebih Aman
Cara kedua yang bisa dilakukan adalah dengan cangkok. Cara ini punya keberhasilan lebih besar dari pada model stek sebab akar di rangsang sebelum batang di potong. Namun beberapa nursery menganggap cara ini jauh lebih merepotkan.
1.  Pilih batang yang sudah tua dengan warna cokelat. Usahkan batang yang dipilih lebih tua dari metode stek
2.  Siapkan pisau tajam, plastik, media tanam, dan tali plastik.
3.  Kupas kulit batang sekitar 3-4 cm untuk tempat media tanam cangkok.


4.  Masukkan media tanam yang terdiri dari humus daun dan bungkus dengan plastik
5.  Lubangi plastik untuk memberikan sirkulasi udara
6.  Siram media cangkok untuk menjaga kelembaban tanaman jadi jaga agar tidak kering
7.  Bila akar sudah terlihat lepas media tanam dan potong batang.
8.  Masukan dalam pot urutan sama dengan model stek.  
Metode cangkok ini lebih aman sebab saat dipisah dari indukan batang sudah mempunyai akar sehingga yang harus dijaga adalah kandungan nutrisinya. Namun cangkok memang punya waktu lebih lama dan batang yang dipilih harus lebih tua dari metode stek. 

1.     Okulasi alias tempel mata tunas juga bisa jadi pilihan. Cara ini tergolong efektif dan cepat. Cocok diterapkan untuk memperbanyak puring langka dan sedang diminati. Semisal puring kura – kura. Umumnya memakai batang bawah puring murah Sementara mata tempelnya adalah puring mahal. Mata tempel dipilih yang sehat da n masih aktif. Ditandai dengan warna hijau kecoklatan dan nampak segar berair. Mata tunas yang mati biasanya berwarna hitam.
2.     Mata tunas diambil dengan jalan menyayat. Disarankan menggunakan pisau yang benar – benar bersih dan tajam. Setelah itu disiapkan tempat penempelan di batang tanaman puring yang lain. Ukurannya harus benar – benar pas. Mata tunas lalu secepatnya dipasang. Lendir dan kambim jangan sampai mengering aau terpegang.
3.     Mata tunas yang sudah dipasang lau diikat erat dengan tali rafia. Cara mengikatnya seperti orang menyusun genting. Yaitu dari bawah menuju ke arah atas. Supaya air hujan tidak masuk ke dalam. Air hujan bisa mengakibatkan mata empel membusuk. Sekitar sebulan kemudian biasanya mata tempel sudah melekat. Tali pembalut bisa dilepas. Tajuk tanaman pokok bisa dipangkas. Supaya mata tunas bisa segera tumbuh.
4.     Begitu juga sambung pucuk, tingkat keberhasilannya terbilang sangat tinggi. Batang bawah puring murah disambung dengan entres puring favorit. Biasanya menggunakan bentuk sambungan ‘V’ lantas diikat plastik. Sama seperti okulasi, entres alias batang atas dipilih yang belum terlalu tua, berciri tak terlalu keras, juga sedang aktif tumbuh.

Jenis Jenis Puring :













Tidak ada komentar:

Poskan Komentar